Menjaga Lentera dari Ranah Minang: Warisan Jiwa "Baliak ka Surau" ala AKBP Dr Nur Ichsan Dwi Septiyanto


   Oleh:  Mailis J wartawan Realitakin.com


Realitakini.com Tanah Datar 
-​Fajar belum lagi sempurna menyingsing di ufuk timur Tanah Datar. Udara dingin khas dataran tinggi Sumatra Barat menusuk hingga ke tulang, namun langkah kaki itu tetap berayun mantap menuju rumah Allah. 

Di barisan terdepan jamaah shalat Subuh, tampak sesosok pria berseragam dinas yang tak asing lagi bagi masyarakat setempat. Ia adalah AKBP Dr. Nur Ichsan Dwi Septiyanto, S.H., S.I.K., M.I.K., Kapolres Tanah Datar.

​Bagi sang perwira, mengabdi bukan sekadar urusan penegakan hukum di meja kerja. Lewat gerakan "Baliak ka Surau" (Kembali ke Surau), ia sedang merajut kembali benang-benang moral generasi muda Minangkabau yang mulai rapuh digilas zaman.

​Bukan Sekadar Slogan di Atas Kertas
​"Baliak ka Surau" bukanlah buah pikiran yang lahir untuk menjadi hiasan buku laporan atau pemanis baliho di pinggir jalan. Ungkapan yang digagas langsung oleh AKBP Nur Ichsan ini merupakan sebuah ajakan halus—namun mendalam—bagi generasi muda. Sebuah seruan agar mereka tidak hanya mengejar ilmu akademis di sekolah, tetapi juga mengakar pada keteguhan iman.

​Di tengah riuh rendah persiapan menyambut Indonesia Emas 2045, Nur Ichsan melihat bahwa fondasi agama dan moral adalah perisai utama. Pemuda masa depan harus menjadi suri teladan yang nyata.

​Komitmen itu dibuktikannya bukan dengan kata-kata, melainkan dengan langkah kaki. Melalui giat Subuh Berjamaah dan iktikaf, sang Kapolres tercatat telah mengunjungi 224  masjid di seluruh pelosok Tanah Datar dan 7 masjid untuk itikaf ,  Masjid Raya Pariangan, masjid  Sungai Tarab, Masjid Raya Saruaso, masjid  Taqwa, Masjid  Minangkabau,  Masjid Rambatan  dan masjid Jamik Bundo Kanduang Ludai Pagaruyung. Turut diikuti sebanyak 140 terdiri dari PJU, para kasat, kapolsek dan personil jajaran polres. Ia membumi, mendengarkan keluh kesah warga, sekaligus menjadi makmum dan imam bagi masyarakatnya.

Salah seorang personil jajaran polres tanah Datar yang sudah mengikuti kegiatan itikaf bersama Kapolres selama tiga hari di salah satu masjid menyampaikan perubahan yang besar dalam hidupnya, rasa sabar ihklas dan rasa taqwa dan keteguhan iman yang semakin kuat dalam menjalani kehidupan. 

​Mengakar pada Adat Basandi Syarak
​Ada hal yang unik sekaligus mengagumkan dari sosok Nur Ichsan. Ia bukanlah putra daerah asli Minangkabau. Namun, detak jantung dan kepeduliannya sangat menjiwai filosofi adat setempat: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan Kitabullah).

​Kepedulian ini lahir dari kegelisahan yang nyata. Saat ini, ancaman Penyakit Masyarakat (Pekat) seperti LGBT, narkoba, dan judi online telah masuk dalam kondisi yang meresahkan dan mengancam masa depan daerah.

​"Tujuannya hanya satu: agar generasi muda kita tidak terjebak ke dalam lingkaran hitam yang berujung pada pidana dan hancurnya masa depan," tegas Nur Ichsan dalam sebuah kesempatan.

​Bergerak tak sendirian, ia merangkul seluruh lini masyarakat. Langkah preventif digalang secara masif. Di bawah kepemimpinannya, Polres Tanah Datar telah menggelar musyawarah sebanyak dua kali bersama Ninik Mamak dan Alim Ulama se-Tanah Datar.

Tak hanya itu, sinergi kokoh juga dijalin melalui koordinasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, hingga ke tingkat Wali Nagari.

​Monumen Fisik dan Spiritual di Mako Polres
​Bukti cinta Nur Ichsan pada bumi Tanah Datar kini berdiri megah di kompleks Mako Polres. Di sana, berdiri Masjid Nur Ihsan, sebuah rumah ibadah yang arsitekturnya didesain menyerupai kemegahan Masjid Nabawi di Madinah.

​Masjid ini dirancang tidak hanya sebagai tempat ritual ibadah, melainkan sebagai pusat peradaban komunitas. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung—termasuk tempat bermain anak yang ramah—masjid ikonik baru di Tanah Datar ini sengaja dibuka untuk umum. Ke depan, masyarakat bahkan bisa memanfaatkannya untuk keperluan pernikahan.

​Masjid Nur Ihsan adalah simbol bahwa institusi kepolisian dan masyarakat tidak memiliki sekat; mereka menyatu dalam doa dan aktivitas sosial.

​"Ambo Indak Pai, Hanya Merantau..."
​Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya. Sebagai seorang abdi negara, tugas baru di tempat lain kini telah menanti AKBP Nur Ichsan. 

Kepergian sang Kapolres menyisakan ruang rindu sekaligus secercah kecemasan di hati masyarakat Tanah Datar.


Warisan AKBP Dr. Nur Ichsan di Tanah Datar ]
  │
  ├─ Spiritual ──> 224 Masjid Subuh Berjamaah & 7 Masjid Iktikaf
  ├─ Sosial    ──> Sinergi "Tungku Tigo Sajarangan" (Adat & Ulama)
  └─ Fisik     ──> Pembangunan Masjid Nur Ihsan (Replika Nabawi). 

​Muncul sebuah pertanyaan yang menggelayut di benak warga: Bagaimana kelanjutan program-program baik ini setelah beliau pergi? Apakah gerakan "Baliak ka Surau" akan terus berlanjut, atau perlahan memudar seiring bergantinya kepemimpinan?

​Menanggapi keresahan tersebut, dengan kerendahan hati yang khas, Nur Ichsan berdalih sembari tersenyum, "Ambo indak pai, hanya merantau..." (Saya tidak pergi, hanya merantau).

​Bagi masyarakat Luhak Nan Tuo, AKBP Nur Ichsan mungkin akan berpindah tugas secara fisik, namun jiwa, sumbangsih, dan fondasi moral yang telah ia tanam akan tetap tinggal. Kini, tongkat estafet berada di tangan masyarakat, pemerintah daerah, dan tokoh adat Tanah Datar untuk memastikan lentera "Baliak ka Surau" tetap menyala, menuntun generasi muda menuju gerbang masa depan yang gemilang..(*) 


Editor : RK