Pesawat Amfibi Malaysia Dikerahkan Bantu Padamkan Karhutla di Sumatera

Pesawat amfibi Maritim Malaysia M71-02 melakukan water scooping untuk pemadaman karhutla di Sumatera Selatan. (Sumber foto: @XZYU KIN)

Realitakini.com-- Sumatera Selatan 
Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mendapat dukungan armada khusus dari Malaysia. Pesawat amfibi Bombardier CL-415MP milik Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) dikerahkan untuk membantu memburu dan memadamkan titik api.

Pesawat registrasi M71-02 tersebut memiliki kemampuan khusus untuk mengambil air langsung dari permukaan sungai melalui teknik water scooping, sehingga tidak perlu mendarat terlebih dahulu untuk mengisi ulang air.

Dikutip dari Air Times News Network, aksi pesawat saat melakukan water scooping di aliran Sungai Lumpur memperlihatkan kemampuan pengisian air yang cepat. Dalam waktu sekitar 12 detik, pesawat disebut mampu menyedot hingga 6.137 liter air.

Setelah mengambil air, pesawat kemudian menuju lokasi kebakaran. Waktu yang dibutuhkan dari proses pengambilan air hingga tiba di area operasi dilaporkan sekitar tujuh menit.
Ribuan liter air tersebut selanjutnya dijatuhkan melalui operasi water bombing untuk membantu memadamkan karhutla yang melanda area sekitar 20 kilometer persegi.

Kemampuan mengambil air secara cepat dari permukaan sungai memungkinkan pesawat melakukan pengisian ulang dan pengeboman air secara berulang. Sistem tersebut dinilai dapat meningkatkan efektivitas serta mempercepat proses penanganan titik api di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Selama mendukung operasi penanganan karhutla di Sumatera Selatan, armada Malaysia tersebut ditempatkan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.
Kehadiran pesawat amfibi tersebut menjadi bagian dari dukungan lintas negara dalam upaya mempercepat pengendalian kebakaran hutan dan lahan sekaligus mencegah meluasnya titik panas di Sumatera Selatan.

Dukungan armada khusus dengan kemampuan water scooping ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi ancaman karhutla yang membutuhkan respons cepat, terutama ketika kondisi lapangan menyulitkan proses pemadaman dari darat.(**)

Posting Komentar

0 Komentar