Mengenal Syekh Muhammad Djamil Jaho: Ulama Besar Minangkabau dan Pelopor Pesantren Tertua di Sumatra Barat

Makam Syekh Muhammad Djamil Jaho di Nagari Jaho kecamatan X Koto. 
       Foto : Mailis


Realitakini.com -Tanah Datar 
Nagari Jaho, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, menyimpan jejak sejarah penting persebaran Islam dan pendidikan di Ranah Minang. Daerah ini merupakan tanah kelahiran ulama besar sekaligus tokoh pendidikan terkemuka, Syekh Muhammad Djamil Jaho (1875–1945), atau yang akrab disapa Angku Jaho.

​Beliau merupakan sosok pendiri Pondok Pesantren MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah) Jaho pada tahun 1928, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan pertama yang berdiri di Sumatra Barat yang kini bernama Pondok Pesantren Muhammad Djamil Jaho.

Salah seorang ​keturunan Syekh Muhammad Djamil Jaho, Rusydawati, S.Sos.,  yang  juga merupakan sekretaris  nagari  Jaho, mengungkapkan bahwa dalam menuntut ilmu, Angku Jaho berguru langsung kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang imam besar berdarah Minangkabau di Masjidil Haram, Mekkah.

​"Syekh Muhammad Djamil Jaho merupakan murid dari Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar asal Sumatra Barat yang menjadi imam besar di Masjidil Haram," ujar Rusydawati saat didampingi Wali Nagari Jaho, Jonnaidi Dt. Tumbijo, Kamis (3/9/2026).

​Pusat Wisata Religi dan Ziarah Nusantara
​Hingga kini, keberadaan makam Syekh Muhammad Djamil Jaho yang terletak di kompleks pondok pesantren tak pernah sepi dari peziarah. Banyak peziarah yang datang merupakan alumni atau murid-murid dari para penerus ajaran beliau yang telah sukses mendirikan pesantren di berbagai daerah.

​"Peziarah paling sering berkunjung berasal dari Aceh, biasanya datang menggunakan rombongan menggunakan bus. Disusul peziarah dari daerah lain seperti Palembang, Lampung, hingga berbagai wilayah di Sumatra dan luar Sumatra ," kata Rusydawati.

​Aktivitas ziarah yang tinggi ini menjadikan Nagari Jaho sebagai salah satu pusat wisata religi yang berpotensi mendorong perekonomian masyarakat setempat. Hal tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan nagari yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nagari Jaho.

​Berdasarkan prasasti yang tertera di komplek makam, Syekh Muhammad Djamil Jaho lahir pada tahun 1875 dan wafat pada tahun 1945 dalam usia sekitar 70 tahun. Dedikasi dan karya ilmiah serta keilmuan yang beliau wariskan terus hidup melalui ribuan alumni yang kini melahirkan pesantren-pesantren baru di seantero Nusantara. (MailisJ) 

Posting Komentar

0 Komentar