Prestasi keagamaan santri dan siswa perlu mendapat pengakuan yang lebih nyata dalam sistem pendidik an. Kemampuan membaca Al-Qur’an, menghafal ayat suci, hingga menorehkan prestasi MTQ dinilai dapat menjadi bekal untuk membuka kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Anggota DPR RI Komisi VIII, KH An’im Falachuddin Mahrus, menilai potensi tersebut perlu diberi ruang melalui jalur prestasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), dengan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku.
Pandangan itu disampaikan Gus An’im, sapaan akrabnya, setelah menghadiri seminar pendidikan Islam di Pondok Pesantren Sirojut Tholibin, Desa Bacem, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, pendidikan perlu mengakomodasi beragam keunggulan peserta didik. Kemampuan ke agamaan yang diperoleh melalui pembelajaran di pesantren maupun lembaga pendidikan formal seharus nya tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga dapat menjadi nilai tambah dalam menempuh pendidikan.
“Kemampuan membaca Al-Qur’an dan hafalan Al-Qur’an, misalnya, dapat menjadi modal prestasi bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi,” ujar Gus An’im.
Ia menekankan, penguatan pendidikan agama bukan hanya berkaitan dengan penguasaan materi ke agamaan. Lebih dari itu, pendidikan agama berperan membentuk akhlak, tanggung jawab, dan karakter generasi muda.
Gus An’im mengingatkan pemerintah agar memberi perhatian lebih terhadap pendidikan keagamaan. Ia menilai pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa diimbangi fondasi moral.
“Di negara sekuler dan kapitalis, pendidikan agama sering dianggap sebagai penghambat pembangunan. Kami berharap pemerintah memahami betapa pentingnya pendidikan agama bagi bangsa dan negara,” katanya.
Pesantren Punya Jejak Panjang dalam Pendidikan Bangsa Dalam kesempatan tersebut, Gus An’im juga mengapresiasi keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama. Menurutnya, hal itu menjadi bentuk pengakuan terhadap kontribusi pesantren dalam perjalanan Indonesia.
“Alhamdulillah, sekarang di Kementerian Agama sudah ada Dirjen Pondok Pesantren. Kami meng hargai ini sebagai pengakuan pemerintah atas besarnya kontribusi pondok pesantren bagi negara,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pesantren telah menjalankan peran pendidikan sejak sebelum Indonesia merdeka. Lembaga tersebut turut menjangkau masyarakat di berbagai daerah, termasuk wilayah yang kala itu belum memperoleh akses pendidikan secara memadai.
Selain mendidik masyarakat, pesantren dan kalangan ulama juga memiliki rekam jejak dalam perjuang an merebut serta mempertahankan kemerdekaan.
“Agama itu fondasi agar negara tetap tangguh dan tidak mudah roboh. Karena itu, pemerintah harus memperhatikan pendidikan agama yang mengarah pada pembentukan akhlakul karimah,” tegas Gus An’im.
Ia berharap pendidikan pesantren dan pendidikan formal dapat saling menguatkan. Generasi muda, me nurutnya, perlu dibekali kemampuan akademik sekaligus nilai moral agar mampu menghadapi tantang an masa depan.
Pengakuan terhadap prestasi keagamaan menjadi salah satu upaya yang didorong Gus An’im untukmem perluas kesempatan pendidikan bagi siswa. Ia berharap potensi santri dan generasi muda di bidang keagamaan dapat berkembang, sekaligus berkontribusi dalam membangun bangsa yang berkarakter(*)

0 Komentar