![]() |
| Para peternak telur bagi bagi telur ke masyarakat bu ndadi kantar bupati (Poto Edi) |
Harga telur ayam ras di Kabupaten Blitar tercatat sebesar Rp26.000 per kilogram berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur per Rabu (03/06/2026) pukul 13.02 WIB. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata harga telur di Jawa Timur yang berada di level Rp25.851 per kilogram.
Sebagai salah satu sentra produksi telur terbesar di Jawa Timur, Kabupaten Blitar ternyata tidak menem pati posisi daerah dengan harga telur termurah. Dari 38 kabupaten/kota yang melaporkan data harga ,posisi tertinggi ditempati Kota Surabaya dengan harga Rp27.250 per kilogram, sedangkan harga terendah tercatat di Kabupaten Nganjuk dan Kota Pasuruan yang sama-sama berada pada angka Rp24.500 per kilogram.
Harga telur di Kabupaten Blitar juga sejajar dengan sejumlah daerah lain seperti Kota Blitar, Kota Madiun , Kota Batu, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Bangkalan yang sama-sama mencatat harga Rp26.000 per kilogram.
Sementara itu, harga telur di beberapa daerah sekitar tercatat lebih rendah. Kabupaten Kediri berada di angka Rp25.933 per kilogram, Kabupaten Tulungagung Rp25.250 per kilogram, dan Kabupaten Treng galek Rp25.000 per kilogram. Sebaliknya, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Lamongan mencatat harga lebih tinggi masing-masing Rp26.957 per kilogram dan Rp26.750 per kilogram
.
Data tersebut menunjukkan bahwa harga telur di tingkat konsumen di Kabupaten Blitar relatif stabil dan masih berada dalam kisaran rata-rata Jawa Timur. Namun demikian, kondisi tersebut berbeda dengan situasi yang dikeluhkan para peternak ayam petelur rakyat.
Perbedaan inilah yang menjadi salah satu latar belakang aksi ratusan peternak di depan Kantor Bupati Blitar, Kecamatan Kanigoro, pada Senin (03/06/2026) Dalam aksi tersebut, peternak membagikan satu juta butir telur gratis kepada masyarakat sebagai bentuk protes sekaligus penyampaian aspirasi terkait kondisi usaha peternakan yang mereka nilai semakin tertekan.
Sebanyak 200 kendaraan pikap dikerahkan untuk mengangkut telur yang kemudian dibagikan kepada warga. Para peternak menyebut tekanan usaha tidak hanya dipengaruhi harga jual telur di tingkat pe ternak , tetapi juga tingginya biaya produksi, terutama pakan ternak dan kebutuhan operasional lainnya.
Karena itu, harga telur yang tercatat di tingkat konsumen tidak serta merta mencerminkan kondisi ekonomi yang dirasakan peternak. Dalam rantai distribusi, terdapat selisih antara harga yang dibayarkan masyarakat di pasar dengan harga yang diterima peternak di kandang.
Aksi tersebut sekaligus menjadi upaya peternak untuk menarik perhatian pemerintah terhadap keberlang sungan usaha peternakan rakyat yang selama ini menjadi salah satu penopang utama produksi telur nasional dari Kabupaten Blitar. (*)
