--> HPN 2025 Menjadi Catatan Penting Dalam Sejarah Pers Indonesia - Realita Kini


Oleh St Syahril Amga, Dt Rajo Indo, SH, MH

Realitakini.com Tanah Datar
 -Sejarah adalah sesuatu yang terjadi dan menyangkut banyak orang tempo dulu. Apa lagi hal itu tercatat dalam suatu bukti yang otentik. Hal itu pada masanya akan menjadi pedoman bagi generasi mendatang.

Hal itu dikatakan Sutan Syahril Dt.Rajo indo, S.H, M.H, dalam menjawab pertanyaan wartawan Realitakini.Com, di Batusangkar, Senin (11/02/2025).
    
Menurut wartawan gaek itu, pers  adalah bagaikan matahari dunia. Matahari itu hanya satu di dunia. Oleh sebab itu jika sudah dua maka hal itu akan menunjukan abscuur libel (kabur). Jadi berbicara tentang pers yang ibarat matahari tentu hanya satu, semoga pada masa mendatang menjadi satu.

Dikatakan satu berdasarkan data dan faktanya. matahari itu memang hanya satu, sifatnya menerangkan, bukan mengaburkan. Hal itu karena data dan fakta serta sifatnya, menerangkan yang benar-benar saja.

 Duapuluh tahun yang lalu (2005) Hari Pers Nasional (HPN) digelar di kota Pekan baru lbu kota Provinsi Riau tersebut dihadi ri Presiden R.I. Adapun yang digelar Tanggal 9 Februari tahun 2025 HPN ini tanpa dihadiri Presiden. Begitupun yang digelar digelar di Banjarbaru (Kalimantan Selatan) juga tanpa presiden.
    
Atas adanya dua HPN pada hari yang sama itu, memang menunjukan organisasi pers lndonesia tidak satu lagi, atau tidak bersatu lagi dan atau belum bersatu seperti dulu. Bercerai-berai runtuh, bersatu teguh/kuat. Sedangkan HPN itu dasar hukumnya juga satu Kepres dan acaranya tidak obahnya bagaikan hari ulang tahun.        Namun yang digelar dalam acara ulang tahun tersebut intinya adalah untuk menambah memperkuat ilmu pengetahuan wartawan.

Disamping memperkokoh pendirian wartawan lndonesia. Bahkan dari menyimak dan mengamati inti-inti dari acara dalam HPN itu juga membuat pondasi wartawan semakin kuat, jelas wartawan pusat Minangkabau itu.

Selain itu bagi yang menghayati inti-inti kegiatan HPN akan menambah keprofesionalannya. Keprofesionalan itu mahal dan tidak ada pada bangku perkuliahan, ungkap wartawan yang telah menulis sejak zaman Presiden Soeharto itu.

Selanjutnya menurut wartawan yang sudah puluhan menulis buku tersebut mengatakan, pers yang diibaratkan bagaikan Matahari dunia itu, karena sifatnya bersatu dalam menerangkan, memberi contoh yang baik. Malah tidak terkecuali meluruskan yang bengkok-bengkok karena manusia mempunyai sifat lupa, kilaf dan kilafat. 

Sehubungan dengan itu lahirlah persatuan wartawan lndonesia (PWI) 79 tahun yang lalu atau tanggal 9 Februari 1946 di kota Solo. Atas keberadaannya itu dari segala unsur manusia yang terlibat akan  pempulikasi an sesuatu yang benar disebut anggota pers. Jadi pers itu tidak hanya wartawan saja justru setiap yang terlibat kegiatan mempublikasian informasi yang memenu hi rumus 5 W + 1 H + 1 S lengkap dengan callornya itu disebut anggota pers.

Pada lokasi HPN di Pekanbaru Provinsi Riau St.Syahril Amga Dt.Rajo lndo, S.H, M.H diantara peserta dari Batusangkar pusat Minangkabau atas nama PWI Sumbar menyuarakan, HPN 2025 cukup mem prihatinkan. 

Penanggung-jawab acara HPN dan Ketua PWI Pusat Zulmansyah Sakedang mengakui secara berulang-ulang sampai tiga kali pada acara puncak HPN 2025 itu memang memprihatinkan. Karena HPN juga ada digelar pada tempat lain.

Sesungguhnya atas terjadi perebutan ja batan yang sama-sama berniat akan mene gakan hukum kebenaran. Sebenarnya dalam suatu organisasi ada rambu-rambu untuk menjernihkannya yakni AD/ART dan atau peraturan dalam rumah tangga. 

Setidaknya jika ada yang melanggar hukum sudah dikatakan oleh pasal 27 ayat (1) UUD 1945 bahwa "segala warganegara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjujung hukum dan pemerintah itu dengan tidak ada kecualinya. Karena itu setiap perbuatan harus ada landasan hukumnya dan lagi negara kita negara hukum," jelas putra Ampalu Gurun itu. (**) 

Mailis
 
Top