Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Kaum Datuk Majo Indo Pucuak Bulek Urek Tunggang Pauah Ujung Tanjung bersama Kaum Datuk Madjo Batuah kembali melaksanakan tradisi Balimau sebagai bentuk pelestarian adat sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut diikuti para ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, serta anak kemenakan dari kedua kaum. Tradisi Balimau tidak sekadar prosesi balimau menggunakan air bercampur limau, tetapi juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi dan memperkokoh nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Prosesi diawali dengan arak-arakan Timbalan Datuk Madjo Indo dari Padang Sarai, Nagari Aia Manggih Barat menuju Nagari Aia Manggih Selatan, bersama Sandaran Datuk Madjo Indo dan Rajo Khatib Pucuk Syara’ Basa Nan IX menuju Rumah Gadang Datuk Madjo Indo di Kampung Koto Tanjung Alai. Turut hadir Dt. Rajo Batimbang dan Dt. Bandaro yang merupakan anak cucu kemenakan Datuk Madjo Indo.
Selanjutnya, arak - arakan dengan berjalan kaki dari rumah gadang dari rumah gadang Datuk Madjo Indo menuju Masjid Raya Pauh Durian Tinggi.
Kedatangan rombongan disambut dengan silek sabung oleh cucu keponakan Datuk Majo Indo dan Datuk Madjo Batuah. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan balimau dan saling bermaaf-maafan sebagai simbol pembersihan diri lahir dan batin.
Tommy Irawan Sandra Datuk Madjo Indo menyampaikan bahwa balimau merupakan warisan turun-temurun yang terus dijaga keberlangsungannya.
“Balimau ini bukan hanya tradisi seremonial, tetapi simbol membersihkan diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan. Ini juga menjadi ajang mempererat persaudaraan antar kaum,” ujarnya.
Ia menjelaskan, prosesi adat tersebut merupakan pertemuan antara Datuk Madjo Indo dengan anaknya secara adat Datuk Madjo Batuah, yang bertemu di Masjid Raya Pauh Durian Tinggi.
Menurutnya, menjaga adat merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Minangkabau.
Melalui tradisi Balimau, generasi muda diajarkan untuk menghormati adat, memahami nilai kebersamaan, serta memperkuat hubungan kekeluargaan.
Sementara itu, Bupati Pasaman, Welly Suhery, menyampaikan bahwa tradisi balimau merupakan agenda tahunan dalam menyambut Ramadan yang sarat makna kebersamaan.
“Tradisi ini mempertemukan dua niniak mamak dan cucu keponakan dari Nagari Pauh dan Nagari Durian Tinggi yang dipertemukan di Masjid Raya Pauh Durian Tinggi,” ujarnya.
Ia menegaskan, tradisi Balimau yang dilaksanakan kaum Datuk Madjo Indo dan Datuk Madjo Batuah harus tetap lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Dalam kesempatan tersebut, atas nama Pemerintah Kabupaten Pasaman, Welly Suhery juga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1447 H, memohon maaf lahir dan batin.
Ia turut mengimbau masyarakat Pasaman untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan ketentraman selama menjalankan ibadah puasa.
Dari pantauan awak media, kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Parulian, pimpinan DPRD Kabupaten Pasaman, ninik mamak Nagari Pauh dan Durian Tinggi, serta ribuan masyarakat dari kedua nagari. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan salat Magrib berjemaah di Masjid Raya Pauh Durian Tinggi. (Nurman)
