--> Sumbu Marapi: Varietas Unggul Lokal Tanah Datar yang Menjelma Jadi Pilar Ekonomi Nasional - Realita Kini


Realitakini.com Tanah Datar
 – Kabupaten Tanah Datar kembali mengukuhkan posisinya sebagai lumbung pangan di Sumatera Barat melalui komoditas hortikultura andalannya: Bawang Merah "Sumbu Marapi". Varietas ini bukan sekadar hasil bumi, melainkan warisan budaya dan simbol kebanggaan daerah yang kini menjadi motor penggerak kesejahteraan ribuan keluarga petani di lereng Gunung Marapi.

​Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tanah Datar, Ibu Sri Mulyani, SP, M.Si, menyatakan bahwa Sumbu Marapi telah bertransformasi dari sekadar konsumsi lokal menjadi komoditas unggulan yang diakui secara nasional.
Filosofi dan Sejarah: Dari Lereng Marapi ke Panggung Nasional. 
Nama "Sumbu" dalam bahasa Minangkabau berarti "pijakan" atau "dasar". Hal ini melambangkan komoditas tersebut sebagai fondasi ekonomi masyarakat. Setelah melalui penelitian ketat selama lima tahun, varietas ini resmi ditetapkan sebagai Varietas Unggul Lokal Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2008.

​"Prestasi ini memuncak pada tahun 2023 saat Sumbu Marapi mendapatkan pengakuan sebagai Produk Unggulan Daerah (PUD) Provinsi Sumatera Barat. Saat ini, kami tengah mengawal proses pendaftarannya sebagai Komoditas Unggulan Nasional di Kementerian Pertanian," ujar Sri Mulyani.

​Karakteristik Unggul: Si Merah yang Tahan Lama
​Sumbu Marapi memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi varietas lain, di antaranya:
​Kualitas Fisik: Umbi berwarna merah pekat, bentuk bulat lonjong yang seragam, dan kulit tipis namun kuat.

​Daya Simpan Tinggi: Mampu bertahan hingga 4 bulan dalam suhu ruang dan 6 bulan di gudang pendingin tanpa mengurangi rasa.
​Kandungan Gizi: Analisis laboratorium menunjukkan kadar Vitamin C, Zat Besi, Kalium, dan senyawa Allicin (anti-kolesterol dan antibakteri) yang lebih tinggi dibanding bawang merah komersial lainnya.

​Rasa Otentik: Rasa gurih dan sedikit manis menjadikannya bahan utama wajib dalam kuliner Minangkabau seperti Rendang dan Dendeng Batokok.
​Dampak Ekonomi: Omzet Ratusan Juta per Hektar

​Kehadiran Sumbu Marapi memberikan dampak masif bagi perekonomian daerah. Saat ini, lebih dari 8.000 keluarga petani di 25 nagari bergantung pada komoditas ini. Dengan luas lahan mencapai 2.500 hektar, produktivitasnya mencapai 12-15 ton per hektar—melampaui rata-rata nasional.

​Dengan estimasi harga Rp15.000 hingga Rp25.000 di tingkat petani, satu hektar lahan Sumbu Marapi mampu menghasilkan pendapatan kotor antara Rp180 juta hingga Rp375 juta per musim tanam.

​"Banyak petani kita yang mampu membangun rumah dan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi berkat bawang ini. Selain itu, tumbuh lebih dari 120 kelompok tani dan berbagai UMKM olahan seperti bawang goreng krispi hingga minyak bawang," tambah Sri Mulyani.

​Visi Global: Menuju Pasar Internasional
​Pemerintah Kabupaten Tanah Datar tidak berhenti di pasar domestik. Dinas Pertanian telah merancang langkah strategis untuk membawa Sumbu Marapi ke kancah global (ekspor), termasuk:

​Pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
​Pembangunan kawasan sentra budidaya terpadu.
​Kerja sama jaringan pemasaran global ke Singapura, Malaysia, hingga Eropa.
​Pengembangan Agrowisata berbasis edukasi pertanian di lereng Marapi.

​"Bawang merah Sumbu Marapi adalah bukti nyata bahwa potensi lokal bisa bicara banyak di level internasional. Kami mengajak seluruh elemen untuk terus berinovasi menjaga warisan ini demi kesejahteraan masyarakat Tanah Datar," tutup Kepala Dinas Pertanian tersebut. (**) 


Mailis J
 
Top