Peringatan Hari Kartini kembali menjadi momentum reflektif bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam melihat peran strategis perempuan dalam pem bangunan. Bagi Anggota DPR RI Komisi VIII, Lisda Hendrajoni, semangat emansipasi yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini tidak cukup hanya di kenang, melainkan harus terus diperjuangkan dalam ruang-ruang nyata.
Dalam pernyataannya, Lisda menegaskan bahwa perjuangan perempuan hari ini telah memasuki babak baru, yakni bagai mana memastikan kehadiran perempuan dalam ruang kebijakan, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan bangsa.
Menurutnya, kemajuan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejauh mana perem puan diberi ruang untuk berkembang.Semangat Kartini, lanjutnya, telah lama menanamkan nilai penting tentang pen didikan, kesetaraan, dan martabat perempuan.
Nilai-nilai tersebut kini semakin relevan di tengah dinamika pembangunan nasional yang menuntut partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, tanpa ter kecuali perempuan.
Di berbagai sektor, perempuan Indonesia telah menunjukkan kiprahnya. Mereka hadir sebagai guru, tenaga kesehatan, pelaku UMKM, akademisi, hingga pe mimpin di berbagai level. Peran ini me nunjukkan bahwa perempuan bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi pe nggerak utama dalam pembangunan sosial dan ekonomi.
Namun di balik capaian tersebut, Lisda mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi perempuan masih nyata. Ketimpangan akses pendidikan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga kerentan an ekonomi masih men jadi persoalan yang harus diselesaikan secara serius oleh negara.
Selain itu, keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan strategis dinilai masih belumoptimal. Padahal, kehadiran perempuan dalam politik diyakini mampu menghadirkan pe rspektif yang lebih inklusif dan berkeadi lan dalam setiap kebijakan publik.
Sebagai legislator di Komisi VIII,Lisda menekankan bahwa pembangunan pe rempuan bukan lahagenda tambahan, melainkan bagian utama dari pem bangunan nasional. Ia meyakini bahwa perempuan yang berdaya akan melahir kan keluarga yang kuat dan masyarakat yang kokoh.
“Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat akan kokoh. Dan pada akhir nya, Indonesia akan maju,” ungkap nya menegaskan.
Lebih jauh, ia menilai bahwa politik sejati nya bukan sekadar soal kekuasaan, tetapi juga tentang ke berpihakan. Dalam konteks ini, politik harus mampu menjadi alat perjuangan bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan lainnya.
Menurut Lisda, semakin banyak perempuan yang terlibat dalam dunia politik dengan integritas dan kapasitas yang mumpuni, maka semakin besar peluang lahirnya kebijakan yang adil dan berpihak pada masyarakat luas.
Momentum Hari Kartini pun menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” harus dimaknai sebagai dorongan kolektif untuk terus membuka jalan bagi perempuan Indonesia agar berani ber mimpi dan mengambil peran strategis.
Di akhir pernyataannya, Lisda mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama melanjutkan terang yang telah diperjuangkan Kartini, menjadikannya sebagai energi untuk membangun Indonesia yang lebih adil, setara, dan berkeadilan bagi semua. (Bee)
