![]() |
| Poto LPG melon dan LPG 5,5 (sumber dokumen istimewa) |
Realitakini.com-Dharmasraya
Kenaikan harga LPG non subsidi yang beriringan dengan melonjaknya harga BBM non subsidi sangat berdampak pada masyarakat khususnya kalangan menengah kebawah yang kesehariannya meng guna kan LPG 5,5 kg atau 12 kg.Disinyalir kalangan menengah kebawah akan melirik elpiji 3 kg untuk konsumen rumah tangga.
Sebagaimana yang dikutip dari KONTAN.COM Direktur Eksekutif of Economy and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memgungkapkan kenaikan Liquefied Petroleum Gas (LPG) non subsidi atau bright gas 12 kg dan 5,5 kg berpotensi menyebabkan terjadinya migrasi konsumen rumah tangga ke elpiji 3 kg.
Khawatirnya kelas menengah kebawah akan masuk ke LPG melon, karena disparitas harga LPG subsidi dan non subsidi terlalu jauh, ungkapnya dalam wawancara Kompas.com (2/4/2026)
Pertamina Patra Niaga secara resmi mengumumkan kenaikan harga LPG non subsidi jenis 5,5 kgsebesar 11,89% dari 90 rb pertabung menjadi 107 rb pertabung diwilayah DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogyakarta, Jawa Timur, Bali dan NTB.
Sebagaimana LPG 12 kg harga LPG 5,5 kg mengalami penyesuaian harga diwilayah lainnya berdasar kan biaya distribusi. Harga ini mulai diberlakukan per April 2026 (dikutip dari laman resmi Pertamina Patra Niaga ).
Sebelumnya wakil ketua MPR, Eddy Soeparno menyampaikan harga LPG turut dipengaruhi oleh harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Maret 2026 ditetapkan sebesar 102,26 dolar AS per barel, naik 33,47 dolar AS dibandingkan Februari.(Fuadcani)
