– Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan pertemuan strategis dengan Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramadani, di Kantor Kementerian Keuangan pada Kamis (23/4).
Dikutip dari Minakonews, Pertemuan ini bertujuan untuk menyelaraskan langkah dalam optimalisasi pengelolaan dana operator investasi pemerintah demi menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Menkeu Purbaya menegaskan bahwa efektivitas dan transparansi menjadi kunci utama dalam pengelolaan dana investasi negara.
Fokus Alokasi APBN 2026
Pemerintah telah memetakan dukungan finansial yang signifikan untuk sektor-sektor strategis melalui APBN 2026. Berikut adalah rincian alokasi pembiayaan investasi yang menjadi sorotan dalam pertemuan tersebut:
Total Alokasi Pembiayaan Investasi 2026: Rp203,06 triliun.
Realisasi Per Januari 2026: Rp22,73 triliun.
Target Dampak: Diharapkan setiap Rp1 dana APBN mampu menarik Rp3 hingga Rp4 modal swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
"Dana ini diarahkan untuk memperkuat sektor strategis, termasuk cadangan pangan nasional, agar memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat," ujar Menkeu Purbaya.
Peran Strategis Bulog dalam Stabilitas Harga
Menanggapi hal tersebut, Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramadani menyatakan kesiapannya untuk berinovasi dalam rantai logistik dan distribusi. Salah satu langkah konkret yang sedang dijalankan adalah penguatan cadangan beras pemerintah untuk mengantisipasi lonjakan harga di pasar.
Item Pengadaan Volume Alokasi Dana Tujuan
Beras Cadangan Pemerintah 50.000 Ton Rp639 Miliar Antisipasi gejolak harga & stabilitas pasokan
Ahmad Rizal menekankan bahwa dukungan dana investasi dari pemerintah akan memperkuat kapasitas Bulog dalam memastikan pangan tetap tersedia dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sinergi Lintas Sektor
Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi koordinasi lintas sektor antara otoritas fiskal dan operator logistik pangan. Sinergi ini diharapkan tidak hanya mampu menjaga stabilitas fiskal, tetapi juga menciptakan ekosistem pangan yang tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi global. (M)
Editor RK
