--> Fakta Baru Keracunan Asap Genset di Tanah Datar: Korban Berasal dari Sekolah Berbeda, Dua Meninggal Dunia - Realita Kini

Realitakini.com TANAH DATAR
Fakta baru terungkap dalam peristiwa tragis yang menimpa tiga pelajar di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Ketiga remaja yang diduga menjadi korban keracunan asap generator set (genset) tersebut ternyata tidak semuanya berstatus sebagai santri di lembaga yang sama, melainkan berasal dari sekolah yang berbeda-beda.

Dikutip dari laman media langgam. id​, Peristiwa nahas ini terjadi di Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, pada Jumat (22/5/2026) malam. Akibat insiden tersebut, dua orang remaja dilaporkan meninggal dunia, sementara satu korban lainnya masih berjuang dalam kondisi koma di rumah sakit.

​Identitas dan Asal Sekolah Korban
​Kepala MTs Diniyah Pandai Sikek, Nailil Husna, mengonfirmasi bahwa salah satu korban meninggal dunia berinisial HAK merupakan salah satu anak didiknya.

​“Ketiga remaja yang menjadi korban dalam peristiwa itu menempuh pendidikan di sekolah berbeda. Salah satu korban meninggal adalah anak didik kami, berinisial HAK,” kata Nailil Husna, Sabtu (23/5/2026). 

​Berdasarkan data yang dihimpun, berikut adalah identitas dan status pendidikan ketiga korban:
​Haykal Aryakamil (15) / HAK: Korban meninggal dunia, berstatus sebagai siswa MTs Diniyah Pandai Sikek.
​Gibran Arrasyid (15) / GA: Korban meninggal dunia, berstatus sebagai santri Pondok Pesantren MTI Koto Tinggi.
​H: Korban selamat (saat ini masih dalam kondisi koma/perawatan medis), berstatus sebagai pelajar MAN 2 Padang Panjang Koto Baru.

​Nailil menambahkan bahwa korban H dan GA memang sempat berada di satu pondok tahfiz yang sama, yaitu di Surau Dakwah, meski H sudah lama tidak aktif di sana. Ia juga menegaskan bahwa peristiwa ini terjadi di luar jam dan lingkungan sekolah.

​“Mereka tidak tinggal di asrama. Rumahnya dekat area masjid,” tutur Nailil.
​Kronologi Kejadian: Bermain Saat Mati Lampu
​Kapolsek X Koto, Iptu Martheriko, menjelaskan kronologi awal mula tragedi tersebut. Peristiwa bermula ketika wilayah setempat mengalami pemadaman listrik massal pada Jumat (22/5/2026) malam.

​Sejumlah anak muda setempat kemudian berkumpul untuk bermain. Karena daya baterai telepon genggam (handphone) mereka habis, mereka meminta izin kepada pengurus Masjid Nurul Huda untuk menyalakan genset agar bisa mengisi daya.

​"Pas lampu mati, anak-anak ini berkumpul dan bermain. Karena baterai handphone habis, mereka minta tolong hidupkan genset," ujar Iptu Martheriko.

​Dari hasil Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sementara, diketahui ada lima remaja yang masuk ke ruangan di bagian belakang masjid untuk mengisi daya HP. Setelah beberapa saat, dua di antaranya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, sementara tiga korban lainnya memilih untuk tidur di ruangan tersebut.

​“Diduga pintu ruangan tempat genset menyala itu tertutup rapat saat para korban tertidur,” jelas Kapolsek.

​Evakuasi dan Kondisi Korban
​Ketiga remaja yang tertidur baru ditemukan oleh warga pada Sabtu (23/5/2026) pagi dalam kondisi kritis akibat diduga menghirup gas beracun dari pembuangan asap genset.

​Saat ditemukan, satu korban sudah dalam keadaan meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan dua lainnya langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat karena kondisinya yang sangat kritis. Namun, satu dari dua korban yang dievakuasi tersebut akhirnya mengembuskan napas terakhir saat menjalani penanganan medis.

​"Dua orang yang krisis ini dibawa ke rumah sakit. Satunya meninggal (di rumah sakit) dan satu lagi masih perawatan. Total ada dua yang meninggal dunia," pungkas Iptu Martheriko.

​Hingga berita ini diturunkan, satu korban selamat berinisial H dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat paparan gas karbon monoksida dari genset tersebut. Ditengarai pihak kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden ini. (MJ) 

Editor : Tim RK


 
Top