Oleh : Mailis J
Realitakini.com Tanah Datar
,Di era digital hari ini, kebaikan sering kali menjelma menjadi komoditas yang bising. Kamera yang me nyorot tajam, siaran langsung di media sosial, hingga unggahan dengan takarir (caption) penuh haru acap kali menjadi paket lengkap saat seseorang mengulurkan bantuan. Memberi, kini identik dengan mempublikasikan.
Namun, di tengah riuh rendah dunia yang gemar pamer, saya justru dipertemukan dengan oase yang menyejukkan.Sebuah pembuktian bahwa ketulusan yang murni itu nyata adanya.Saya menemukan sosok itu. Sosok yang dalam benak saya, tidak berlebihan jika disebut berhati malaikat.
Bukan Soal Angka, Tapi Tentang Rasa
Menilai sebuah bantuan sering kali terjebak pada nominal. Berapa besar uang yang dikeluarkan? Sebe rapa mewah barang yang diberikan? Namun, orang baik yang saya temui ini mematahkan semua standar materialistis tersebut.
Esensi bantuan yang ia berikan tidak diukur dari besar atau kecilnya nilai materi, melainkan dari tum pahan keikhlasan yang menyertainya. Ia bergerak dalam sunyi. Saat tangan kanannya mengulur, tangan kirinya benar-benar tidak tahu. Ia memilih jalan yang sunyi—sebuah jalan yang hari ini sangat jarang berani dilewati oleh orang kebanyakan.
Ia membantu dalam diam, menjauh dari riak tepuk tangan manusia dan sorot kekaguman publik. Bagi sosok ini, meringankan beban sesama tampaknya adalah urusan vertikal antara dirinya dan Sang Pen cipta, bukan urusan horizontal untuk sekadar mencari validasi sosial.
Doa yang Terguncang ke Langit
Menerima ketulusan yang begitu senyap melahirkan sebuah getaran hebat di dalam dada. Ada rasa haru yang membuncah, yang saking besarnya, tidak lagi mampu ditampung oleh kata-kata di dunia. Rasa itu kemudian mengkristal, menjelma menjadi energi yang mengguncang doa-doa ke langit.
Ketika sebuah kebaikan dilakukan tanpa pamrih di bumi, maka semesta seperti ikut bergerak membalas nya. Melalui untaian doa yang tulus, berharap Sang Pencipta mendengar setiap bait pintaan yang di panjatkan khusus untuknya. Sebuah doa yang tak putus-putus meminta agar kesehatan, kebahagiaan, dan kedamaian selalu memeluk erat sepanjang hidupnya.
Ini bukan sekadar untaian kalimat yang dilebih-lebihkan. Ini adalah kenyataan yang hidup, yang dirasa kan langsung oleh jiwa yang pernah dibantu olehnya.
Terima kasih, orang baik. Di dunia yang terkadang terasa egois dan dingin ini, kehadiranmu adalah pengingat bahwa kebaikan sejati tidak pernah butuh panggung. Semoga Allah SWT membalas seluruh keikhlasanmu dengan balasan terbaik yang melimpah. (*)
