Empat Elemen Spritual Melekat Pada Museum Istano Basa Pagaruyung

Realitakini.com Tanah Datar                              -
Museum Istano Basa Pagaruyung merupakan simbol kebudayaan alam Minangkabau, seperti bangunan lainnya Rumah Gadang ini memiliki elemen dan unsur-unsur pembentuk bangunan itu sendiri, bangunan atapnya seperti tanduk (gonjong), ruang dalam, dinding Rumah Gadang yang penuh ukiran, dan tangga di depan Rumah Gadang itu sendiri. 

Sedangkan menurut teori arsitektur, elemen-elemen pembentuk suatu arsitektur antara lain : titik, garis, bidang, ruang, bentuk, tekstur dan warna. Selanjutnya analisis mengenai makna spiritual Islam pada Rumah Gadang Museum Istano Basa Pagaruyung sebagai berikut. 

Elemen Garis yaitu garis dengan arah vertikal dan horizontal tampak pada penempatan tangga di depan pintu masuk bangunan Rumah Gadang, garis pada tangga terlihat mendominasi dengan adanya pengulangan. 

Maknanya yakni jumlah janjang anak tangga Rumah Gadang Museum Istano Basa Pagaruyung, ber jumlah ganjil yaitu 11 anak tanggatangga. Keganjilan pada bilangan ini disukai oleh masyarakat Minangkabau, karena sesuai dengan Alquran dan Hadist, yang mengatakan bahwa Allah itu Esa dan Ia menyenangi yang ganjil. Sebab yang genap adalah sudah sempurna dan sudah lengkap, dan hanya milik Allah SWT. 

Elemen Bidang yaitu ornamen ukiran alam yang penuh mendominasi pada bidang fasad bangunan arsitektur Rumah Gadang Museum Istano Basa Pagaruyung. Maknanya, ukiran di Rumah Gadang Istano Basa Pagaruyung umumnya bermotif alam, seperti akar, daun, bunga dan hewan. Kesemuanya lebih identik dengan pantulan makna-makna simbolik dari pada meniru bentuk alam tersebut. 

Hal ini dikarenakan prinsip orang Minangkabau yang berdasar pada adat budaya Minangkabau, dengan ketentuan Islam dalam Alquran dan Hadist yang merupakan syari'at, yang melarang manusia untuk menggambarkan makhluk hidup secara utuh. 

Elemen Bentuk yaitu bentuk atap gonjong memiliki analogi, yang berasal dari tanduk kerbau dan meng ikuti alam. Maknanya, bentuk atap gonjong yang terinspirasi dari hewan kerbau, disimbolkan sebagai interaksi kepada Tuhan, dimana bentuk gonjongnya yang selalu mencuat ke atas atau ke langit. 

Selanjutnya, Rumah Gadang Museum Istano Basa Pagaruyung memiliki 11 gonjong, sehingga ke beradaannya lebih diagungkan dibandingkan dengan Rumah Gadang biasa yang memiliki 4 gonjong, sehingga lebih dianggap sakrak dan monumental, terlebih jumlah gonjongnya yang ganjil. 

Sedangkan material atap yang terbuat dari ijuk, berbeda dengan Rumah Gadang lainnya. Maknanya, ijuk pada atap Museum Istano Basa Pagaruyung, diibaratkan sebagai mahkota dalam suatu Rumah Gadang, maka dengan banyak digantinya material ijuk di Rumah Gadang lain  saat ini dengan atap seng, seolah-olah Rumah Gadang tidak lagi mempunyai mahkota. 

Terakhir Ruang yaitu bentuk ruang mengikuti struktur, ruangan bersifat linear, dan fungsi ruang mengikuti hirarki. Maknanya, Rumah Gadang Museum Istano Basa Pagaruyung terdiri dari 9 biliak yang mengikuti struktur bangunan, dimana 2 biliak diantaranya tidak digunakan sebagai ruangan, melainkan sebagai tempat jalan menuju dapur dan tangga. Jumlah biliak nya yang ganjil, Lagi-lagi bermakna spiritual yaitu mengingat akan bilangan yang disukai Allah SWT. (M)

Penulis Mailis

Sumber
 -Basyir Dt Bungsu Tokoh Adat Nagari Pagaruyung
-Yose Lokal Guide Museum Istano Basa Pagaruyung

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama