--> Di Tengah Amuk Alam: Cinta Bertahan Lebih Lama dari Napas - Realita Kini


Oleh: Rungo Ashta


Di antara sisa amukan alam yang masih dikepung bau tanah basah dan isak tangis, tim evakuasi mendapati pemandangan yang membuat waktu terasa berhenti. Dari balik lekat lumpur dan puing-puing berserakan seperti kitab duka yang dibuka paksa, seorang ibu ditemukan tengah memeluk erat anaknya. Dekapan yang tak lagi bernyawa, terasa seperti mata air yang membeku di tengah badai salju. Sebuah bukti bahwa kasih sayang dapat bertahan lebih lama dari napas manusia itu sendiri. Para petugas yang terbiasa menghadapi tubuh-tubuh hancur hanya mampu menunduk lemas. Ada luka yang tak mampu diukur, ada bahasa cinta yang tak mampu diurai.

Fenomena seorang ibu yang mendekap anaknya hingga akhir hayat bukan sekadar adegan tragis yang lahir dari amukan alam. Di dalamnya terkandung sebuah mekanisme psikologis purba yang diwariskan sejak pertama kali manusia belajar mencintai. Dalam perspektif psikologi evolusioner, perilaku seorang ibu melindungi anaknya dalam situasi ekstrem sekali pun adalah bentuk tertinggi dari Maternal Instinct, naluri yang tetap hidup meski sistem tubuh terancam runtuh. Naluri tersebut bekerja seperti pengingat biologis yang tidak mengenal kompromi. Saat bahaya datang, tubuh seorang ibu tidak lagi berfokus pada dirinya, melainkan pada kehidupan kecil yang pernah ia dengungkan melalui detak jantungnya.

Banjir dan longsor yang menghantam sebagian wilayah Sumatera itu bukan sekadar air yang mengalir dari dataran tinggi, ia membawa gelombang yang mampu merampas rumah dan keluarga, memecah jembatan, serta menghapus jalan setapak hasil lukisan jejak kehidupan penduduk. Namun, dalam amukan gelombang itu, dekapan seorang ibu tetap menjadi tameng terakhir. Sebuah perisai rapuh, tetapi penuh keberanian. Secara psikologis, kondisi ekstrem seperti itu memicu fight response, dorongan bertahan hidup yang mendorong seseorang melakukan tindakan perlindungan tanpa proses berpikir panjang. Pada kasus ini, fight response tidak diarahkan untuk menyelamatkan dirinya, tetapi memastikan anaknya tetap dalam radius perlindungan, seolah tubuhnya sendiri menjadi tembok hidup bagi anaknya.

Ketika air mengempas, puing reruntuhan dan kayu-kayu berlaga, naluri itu bekerja lebih cepat dari ketakutan. Mungkin ibu sempat terhempas, terseret bersama derasnya banjir, tersengal di antara air yang perlahan menutupi paru-parunya. Namun, lengannya setia melingkar di tubuh mungil anaknya. Terdapat paradoks memilukan di sini, di satu sisi tubuh manusia memiliki batas, tetapi di sisi lain kasih ibu tanpa batas. Itulah mengapa dekapannya tak terlepas bahkan saat embusan napas terakhir. Dalam psikologi, ini dikenal dengan attachment behavior, yakni perilaku melekat yang bukan hanya emosional, tetapi juga fisik. Pada situasi genting, perilaku ini menjadi pilihan terakhir. Jika dunia runtuh, setidaknya ia runtuh sambil memeluk anak yang paling dicintai.

Pemandangan semacam ini tidak jarang ditemukan dalam tragedi-tragedi bencana. Di Aceh 2004, di Palu 2018, di gunung-gunung yang longsor atau sungai-sungai yang meluap, kisah serupa sering menautkan duka yang sama. Seorang ibu ditemukan menjadikan dirinya tameng terakhir, bahkan saat peluang hidupnya pun nyaris nihil. Fenomena ini menunjukan bahwa cinta, dalam bentuk paling purba, bekerja bukan dengan logika, tetapi melalui dorongan biologis yang menempatkan kehidupan anak di atas segalanya.

Tragedi tersebut bukan sekadar potret bencana alam, tetapi potret kemanusiaan yang paling murni dan tulus. Saat manusia kehilangan kontrol atas alam, justru yang tersisa adalah hal paling sederhana namun paling besar, yaitu cinta. Kita sering melihat heroisme dalam bentuk tindakan spektakuler, tetapi dalam tragedi ini, aksi heroik hadir dalam dekapan seorang ibu. Tanpa saksi, tanpa kamera, tidak ada kesempatan menyampaikan pesan kematian. Yang ada hanya dua tubuh saling menguatkan hingga napas terakhir mereka. Bahkan perspektif psikologis pun tidak sanggup menguraikan bagaimana sang ibu menenangkan anaknya saat berada antara kehidupan dan kematian.

Fenomena tersebut menyodorkan ironi pahit. Betapa rentannya kehidupan, betapa rapuhnya manusia di hadapan kuasa alam. Namun, pada saat bersamaan ia juga menyuguhkan pelajaran tentang kesucian kasih ibu. Kasih yang bekerja bahkan ketika detik kematian menghampiri. Seorang ibu tidak memperhitungkan risiko, tidak menimbang kemungkinan. Ia tidak berpikir apakah ia akan selamat. Ia hanya tahu satu hal, anaknya harus tetap berada dalam pelukan.

Metafora psikologis dalam kisah ini dapat diibaratkan seperti akar pohon yang tetap mencengkeram tanah meski batangnya nyaris patah diterjang badai. Akar tidak pernah bertanya apakah pohon akan selamat, ia hanya melakukan tugas hingga detik terakhir. Pun seorang ibu, pelukannya adalah akar terakhir yang berpegang pada harapan. Harapan yang mungkin mustahil, tetapi cukup membuatnya bertahan dalam badai kematian menghantam. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, pelukan ibu adalah satu-satunya pertahanan yang tak tergoyahkan, bahkan ketika bumi bergeser.

Para petugas yang menyaksikan mereka tentu membawa pulang kisah itu, bukan sebagai catatan statistik, tetapi sebagai kisah yang melekat di hati. Mereka mungkin terbiasa menghadapi jasad, tetapi tidak terbiasa menghadapi kasih yang membatu dalam embus terakhir napas. Ada sesuatu yang mengguncang jiwa ketika melihat dua tubuh yang tak terpisahkan bahkan oleh kematian. Seolah sang ibu berkata pada dunia, “jika ini kematian, biarkan pelukku melindunginya dari siksa maut.”

Pesan yang terhampar dari kisah ini sangat jernih. Kasih sayang seorang ibu tidak memiliki garis waktu. Banyak hal dalam hidup dapat retak dan patah, tetapi cinta seorang ibu tetap utuh, bahkan ketika tubuhnya tak lagi bernapas. Dalam dekapan itu, terkandung pesan bahwa kemanusiaan masih memiliki pusat. Sebuah pusat yang tumbuh dari kasih sayang tanpa syarat, kasih yang sering kita abaikan dalam kehidupan yang tergesa-gesa.

Ketika membaca kisah ini, hendaknya kita berhenti sejenak. Bukan untuk meratapi duka, tetapi untuk menyadari bahwa hidup layak dijalani dengan lebih bermakna. Bila di tengah bencana besar pun seorang ibu masih sanggup melakukan yang terbaik, lalu apa alasan kita untuk tidak berlaku baik pada hari yang tenang? Jika di tengah banjir yang mengamuk ibu masih setia memeluk, mengapa kita biarkan kasih kita menguap dalam hari-hari yang damai?

Pada akhirnya, esai ini adalah penghormatan bagi para ibu yang menjadikan tubuhnya tameng terakhir. Dunia mungkin tak sempat menyaksikan perjuangan mereka, tetapi pelukan terakhir itu cukup sebagai pengingat bahwa dalam gelap paling pekat sekali pun, cinta ibu masih setia. Teguh, hangat, dan abadi.
 
Penulis
Rungo Ashta, nama pena dari Gusmarita, SM. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karyanya dimuat dalam buku solo, antologi, dan sejumlah media daring. Pendiri Akademi Menulis Metafora, sebuah ruang belajar menulis yang tengah tumbuh dan berkembang. Anggota FPL Pasaman Barat, siswa Sekolah Menulis elipsis, WIN Indonesia. Bisa disapa di media sosial: Rungo Ashta
 
 
Top