Lapangan GOR Ilyas Yakub di Painan sejak pagi telah dipenuhi ribuan warga yang datang dengan balut an pakai an putih dan terbaik mereka. Suasana takbir dan salam-salaman khas Idulfitri menyelimuti seluruh kawasan.
Di tengah kebersamaan itu, AnggotaKomisi VIII DPR RI, Dr. Hj. Lisda Hendrajoni, S.E., M.M.Tr, atau yang akrab disapa Bunda Lisda, tampak hadir melaksanakan salat Idulfitri 1447 H bersama masyarakat. Ia datang bukan sekadar sebagai tokoh, tetapi turut duduk bersila, bersalaman, dan ber cengkrama hanga t dengan warga yang memadati lokasi.
Bunda Lisda yang dikenal dekat dengan masyarakat Pesisir Selatan itu memanfaa tkan momen hari ke menangan untuk menyampaikan pesan yang begitu mem bekas.
“Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” ucapnya dengan senyum khasnya kepada warga yang berkumpul di sekitar nya.
Namun, lebih dari sekadar ucapan Lebar an, Bunda Lisda mengajak seluruh masya rakat Pesisir Selatan menjadikan Idulfitri ini sebagai penguat tali persaudaraan.
“Idulfitri bukan hanya soal bermaafan. Ini waktunyo kito memperkuat silaturahmi. Kito lapehan per- bedaan, kito rangkul kembali saudara-saudara yang mungkin lama tak bersua,” pesannya dengan logat Minang yang kental, membuat warga ter senyum dan mengangguk-angguk.
Suasana makin hangat ketika ia bersama istri-istri Forkopimda Pesisir Selatan ber keliling menyapa warga. Tak sedikit yang meminta berswafoto, bersalaman, dan sekadar bertukar cerita. Anak-anak pun tak luput dari perhatiannya.
“Mudah-mudahan kebersamaan yang kito rasokan hari ini terus terjaga. Pesisir Selat an kito tercinta ini harus tetap rukun, aman, dan penuh keberkahan,”tambahnya.
Bagi masyarakat Pesisir Selatan, kehadiran Bunda Lisda di tengah mereka di hari Lebaran bukan se- kadar seremoni. Ia di kenal sebagai sosok yang selalu hadir saat masyarakat butuh, dan kali itu pun ia kembali menunjukkan bahwa Idulfitri adalah waktu terbaik untuk memperkuat ikatan batin antara pemimpin dan rakyatnya.
Usai salat, ribuan warga masih bertahan di lapangan, duduk beralas tikar, menikmati kebersamaan yang mungkin hanya hadir setahun sekali. Bunda Lisda pun ikut larut, sesekali tertawa lepas bersama warga, sesekali mendengarkan keluh kesah dengan saksama.
“Idulfitri ini waktunyo kito jadikan awal yang baru. Kito bangun kembali semangat gotong royong, kito kuatkan lagi ukhuwah. Insya Allah, kalau kito basamo, semua akan terasa ringan,” tutupnya ( RK).
