Redaktur Koran Harian Padang Ekspres Wilian Abib didampingi Wali Nagari Durian Tinggi Hendra Gunawan saat menyampaikan materi tentang peran pers dalam perlindungan perempuan dan anak pada kegiatan sosialisasi di Nagari Durian Tinggi, Senin (27/4).
Realitakini.com -- Pasaman Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di sejumlah wilayah di Sumbar, mendorong Nagari Durian Tinggi menggelar sosialisasi khusus yang menyoroti peran strategis pers sebagai garda depan perlindungan. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (27–28/4/2026).
Kegiatan ini juga sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap maraknya kasus kekeras an.
Di hari pertama ada tiga sesi, dan di sesi ketiga, Nagari Durian Tinggi melibatkan pers sebagai nara sumber atau pemateri.
Kegiatan menghadirkan narasumber Wilian Abib, Redaktur Harian Pagi Padang Ekspres yang juga men jabat Wakil Manager Bidang Usaha serta mantan Koordinator Liputan.
Dalam pemaparannya yang bertajuk Peran Pers dalam Perlindungan Perempuan dan Anak, Wilian me negaskan bahwa pemberitaan tidak sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga dapat menjadi alat per lindungan atau sebaliknya, memperparah luka korban menekankan pentingnya tanggung jawab media dalam mengangkat isu sensitif tersebut.
“Pers bukan hanya penyampai berita, tetapi juga penjaga nilai kemanusiaan. Dalam isu perempuan dan anak, satu berita bisa melindung atau justru melukai,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pers memiliki fungsi utama sebagai penyampai informasi, sarana edukasi, sekaligus kontrol sosial. Di tengah meningkatnya kasus kekerasan, media dinilai memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik dan mendorong perubahan sosial.
Menurutnya, peran strategis pers mencakup pengungkapan kasus, pengawasan kebijakan pemerintah, hingga memberikan ruang aman bagi korban untuk bersuara.Namun, semua itu harus dijalankan dengan prinsip etika jurnalistik yang ketat.
“Media tidak boleh mengungkap identitas korban, tidak menyudutkan korban, dan harus menggunakan bahasa yang sensitif. Ini penting agar pemberitaan tidak menambah trauma,” ujarnya.
Wilian juga menyoroti bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan persoalan global. Ia mengutip data bahwa satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan, sehingga isu ini membutuhkan perhatian serius dari semua pihak, termasuk media.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pers, pemerintah, masyarakat, serta lembaga ter kait dalam menciptakan perlindungan yang maksimal. Peran masyarakat juga dinilai krusial, terutama dalam menyaring informasi dan tidak menyebarkan konten yang dapat merugikan korban.
Sementara itu, Wali Nagari Durian Tinggi, Hendra Gunawan, mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap isu perlindungan perempuan dan anak.
“Kegiatan ini dilakukan untuk menambah pengetahuan masyarakat. Kami berharap peserta dapat lebih peduli dan memahami pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi materi yang disampaikan narasumber yang dinilai memberikan wawasan baru, khususnya terkait peran media dalam mendorong perubahan sosial.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga bagian dari upaya kolektif dalam mencegah dan melawan kekerasan terhadap perempuan dan anak.(Nurman)
