Realitakini.com -- Jakarta
Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/05/2026). Pertemuan tersebut membahas kesiapan implementasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) yang dijadwalkan mulai berlaku pada awal Juni mendatang.
Informasi yang dihimpun dari BPMI Sekretariat Presiden menyebutkan, rapat tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat pengawasan dan tata kelola devisa hasil ekspor guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai rapat mengatakan pemerintah saat ini tengah menuntaskan seluruh instrumen regulasi pendukung agar implementasi kebijakan DHE dapat berjalan tepat waktu dan efektif.
Menurut Airlangga, regulasi tersebut disiapkan untuk memastikan devisa hasil ekspor dari sejumlah komoditas strategis dapat memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian nasional, termasuk menjaga ketahanan cadangan devisa negara.
Pemerintah juga menyiapkan mekanisme pelaksanaan ekspor untuk sejumlah komoditas unggulan seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan ferro alloy melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia.
Selain penyusunan regulasi, pemerintah akan melakukan sosialisasi kepada asosiasi pelaku usaha dan eksportir yang berkaitan dengan sektor komoditas strategis tersebut agar implementasi kebijakan dapat dipahami secara menyeluruh oleh dunia usaha.
Airlangga menambahkan, pemerintah turut mengantisipasi dampak ketidakpastian ekonomi global dengan menyiapkan sejumlah langkah strategis guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua tahun 2026.
Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan yakni penerapan kebijakan work from home selama dua bulan ke depan pada sektor tertentu, disertai sejumlah insentif ekonomi untuk mendorong daya beli masyarakat dan menjaga aktivitas ekonomi tetap stabil.
Pemerintah berharap rangkaian kebijakan tersebut dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional sekaligus menjaga optimisme pelaku usaha di tengah tantangan ekonomi global yang masih berfluktuasi. (*).
