Kesehatan merupakan Hak Asasi Manusia dan merupakan salah satu unsur kesejahteraan masyarakat yang juga sudah dituangkan dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 serta Pancasila.
Sebagai ujung tombak pemberi pelayanan kepada masyarakat, Puskesmas Kampung Baru Padusunan tentu memiliki peran krusial dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan ditingkat pertama yang bermutu, berkualitas dan merata melalui gebrakan baru disebut PHC CERIA (Primary Healthycare CERIA).
“PHC CERIA bukan hanya sekedar pelayanan medis atau pelayanan dasar biasa, namun sebuah inovasi baru melalui pendekatan pelayanan yang mengintegrasikan pelayanan promotif, preventif dan melibat kan parsitisipasi aktif dari masyarakat,” ujar Badriah Khalidi, SKM selaku Kepala Puskesmas Kampung Baru Padusunan.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa PHC CERIA hadir dalam menjawab tantangan pelayanan kesehat an saat ini. Meskipun sistem pelayanan tersebut terus berkembang, namun kenyataannya dilapangan-- masih terdapat kesenjangan (gap) yang besar dan aksebilitas pelayanan terutama bagi kelompok masya rakat rentan. Pelayanan jemput bola ini dilakukan untuk menghapuskan keterbatasan masyarakat dalam mengakses fasilitas kesehatan.
“Masyarakat kita sangat beragam. Setelah kami lakukan penulusuran lapangan dan hasil diskusi ber bagai lintas sektor,diketahui bahwa masih terdapat hambatan berlapis baik dari segi ekonomi (terhambat biaya transportasi karena keluarga kurang mampu), segi fisik (lansia, penyandang disabilitas atau pasien penyakit kronis) maupun kondisi lainnya yang membuat masyarakat kita tidak datang ke puskesmas. Akibatnya, bisa terjadi keterlambatan penanganan medis,penurunan derajat kesehatan hingga bisa meng akibatkan mortalitas di wilayah kerja Puskesmas Kampung Baru Padusunan” ungkapnya
Menyikapi permasalahan tersebut, Puskesmas Kampung Baru Padusunan menginisiasi inovasi PHC CERIA yang difokuskan kepada pelayanan bagi kelompok rentan. Inovasi ini dirancang untuk “men jemput bola” dan meruntuhkan dinding pembatas akses pelayanan kesehatan. Fokus utama inovasi ini adalah memberikan pelayanan yang Accessible (mudah dijangkau), Affordable (terjangkau), Available (tersedia tepat waktu), dan Acceptable (diterima dengan baik secara sosial budaya), tuturnya.
“Saat petugas kesehatan datang kerumah masyarakat, tentu kita bisa melihat lansung bagaimana kondisi sanitasi, pola makan dan gaya hidup pasien. Hal ini membuat edukasi atau penyuluhan kesehatan yang diberikan lebih relevan dan sesuai dengan realitas di lapangan. Jadi tidak ada lagi alasan masyarakat tidak berobat di wilayah kerja Puskesmas Kampung Baru Padusunan,” tukasnya..
Badriah berharap, dengan keterlibatan aktif masyarakat sebagai kader kesehatan, PHC CERIA tidak hanya menjadi program pengobatan sesaat, melainkan sebuah gerakan berkelanjutan demi menciptakan kemandirian kesehatan di tingkat akar rumput, ulasnya.
“Diharapkan, kehadiran inovasi PHC CERIA ini mampu menjadi jembatan yang meruntuhkan kesen jangan, sekaligus memastikan bahwa negara hadir memberikan pelayanan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecualim” tutupnya(*)
