Pemerintah Kota Pariaman melalui Puskesmas Kampung Baru Padusunan, Kecamatan Pariaman Timur, mengambil langkah agresif dalam menekan angka kematian ibu dan bayi dengan mengembangkan salah satu Inovasi pelayanan kesehatan SI BUCEK BUMING PLUS (Siapkan Ibu Hamil Cegah Komplikasi Dengan Buku Monitoring Plus).
Inovasi ini adalah pengembangan dari inovasi sebelumnya SI BUCEK BUMING (Siapkan Ibu Hamil Cegah Komplikasi Dengan Buku Monitoring) yang telah dilaksanakan hanya di Desa Bato dalam mengawal kesehatan reproduksi.
Pada tanggal 5 Februari 2025, Puskesmas Kampung Baru Padusunan secara resmi mereplikasi dan mem berlakukan program ini di seluruh 8 (delapan) desa yang berada di bawah wilayah kerjanya. Langkah perluasan cakupan ini diambil setelah program yang digagas oleh Bidan Desa Bato tersebut terbukti efektif sejak disosialisasikan pertama kali pada Februari 2024 lalu.
Inovasi yang awalnya berfokus sebagai pilot project di Desa Bato dengan melibatkan kepala desa,Ketua PKK, hingga kader Posyandu dan PPKBD, kini diadopsi secara masif. Kepala Puskesmas Kampung Baru Padusunan, Badriah Khalidi, SKM, menegaskan bahwa perluasan jangkauan ke seluruh 8 desa ini merupakan komitmen nyata untuk menekan angka kehamilan risiko tinggi secara merata di Wilayah kerja Puskesmas Kp.Baru Padusunan.
"Kami melihat dampak positif yang nyata di Desa Bato. Masalah kesehatan yang belum teratasi se belum kehamilan adalah faktor utama komplikasi. Mulai tahun 2025 ini, kami ingin memastikan seluruh Pasangan Usia Subur (PUS) di 8 desa wilayah kerja kami mendapatkan hak pelayanan pengawasan yang sama," ujar Badriah Khalidi.
Labih lanjut ia menambahkan bahwa kehamilan yang sehat membutuhkan persiapan fisik dan mental dari setiap ibu. Perencanaan kehamilan yang sehat harus dilakukan sebelum masa kehamilan. Proses kehamilan yang direncanakan dengan baik, maka akan berdampak positif pada kondisi janin dan adaptasi fisik dan psikologis dari ibu menjadi lebih baik, ucapnya.
“Deteksi dini sebelum masa kehamilan dapat menjadi salah satu upaya untuk mengetahui lebih awal sekaligus menangani ibu hamil dengan resiko tinggi. Resiko tinggi kehamilan adalah keadaan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi baik pada masa kehamilan atau persalinan,” tukasnya.
Ketua IBI Kota Pariaman ini juga menyampaikan bahwa inovasi ini, sejalan dengan Program yang diinstruksi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, yang berfokus pada skrining awal PUS sebelum memasuki masa kehamilan. Melalui media Buku Monitoring, masyarakat tidak perlu jauh-jauh datang ke Puskesmas untuk melakukan kontrol Kesehatan, ulasnya.
Untuk memastikan inovasi berjalan optimal di 8 desa, tim inovasi yang dipimpin oleh Pemegang Pro gram Kesehatan Reproduksi, Novia Sari Putri, A.Md.Keb, dan didukung Kepala Tata Usaha, Selvi Vronica, SKM, menerapkan strategi integrasi pelayanan di tingkat desa.
“Masyarakat kini tidak perlu jauh-jauh datang ke Puskesmas induk untuk mendapatkan layanan ini. Sistem pemantauan dilakukan langsung di garda terdepan kesehatan desa. Melalui Posyandu & dan kunjungan rumah, pasangan Usia Subur (PUS) mendapatkan buku monitoring khusus untuk mengontrol kondisi kesehatan mandiri. Intervensi Berkelanjutan, kader kesehatan di masing-masing desa akan membantu menyisir dan mendata PUS yang membutuhkan intervensi medis lanjutan secara cepat dan tepat dari petugas puskesmas,” jelasnya.
"Jika inovasi ini dilakukan secara optimal di seluruh desa, dampak jangka panjangnya adalah lahirnya generasi berkualitas yang sehat dan bebas dari kecacatan. Ini adalah kontribusi nyata kita dari tingkat puskesmas demi terwujudnya Indonesia Emas 2045," tutupnya
Pihak Puskesmas Kampung Baru Padusunan berharap, perluasan yang berjalan di 8 desa ini mendapat dukungan penuh dari lintas sektoral, mulai dari para kepala desa, kader, hingga kesadaran dari masya rakat itu sendiri agar tidak ada lagi kasus kehamilan yang tidak ideal.
Pihak manajemen Puskesmas, termasuk Kepala Tata Usaha Selvi Vronica, SKM, beserta seluruh tim inovasi menyatakan optimisme tinggi terhadap perluasan program ini. Dampak jangka panjang yang diincar bukan sekadar menurunkan angka morbiditas (kesakitan) pada ibu hamil, melainkan investasi generasi jangka panjang.
